Mimpi Jd Petani

No Gravatar

Kalau aku tanya cita2 kepada adik2 or ponakan or anaknya tetangga, pasti jawabannya klo gak dokter, polisi, guru,pengusaha or jawaban umum yg lain. Tapi ada satu sepupuku yang cukup kreatif menjawab ingin jadi reporter karena terinspirasi oleh Riyanni Djangkaru presenter Jejak Petualang di trans7, tujuannya satu biar bisa jalan2 keliling Indonesia n sometimes ke luar negri dengan GRATIS, idih ternyata kecil2 sudah bisa berfikir ‘duit’ juga dia.
Anyway, sebenarnya aku pengen sekali mendengar jawaban AKU PENGEN JADI PETANI! (Karena sebenarnya ini cita2ku yang belum kesampaian he2..). Trus kenapa hampir tidak ada anak2 skrg yang bercita2 jadi petani yach? Mungkin karena petani identik dengan miskin, kotor dan kerja keras. Padahal klo di Amerika, jadi petani juga bisa kaya raya, so yang salah pasti bukan pada ‘petani’-nya saja, tp lebih kepada sistem yang ada. Mulai dari sistem pendidikan yang membentuk petani (petani Indonesia cenderung sukanya dapet uang yang cepet, gak mau ‘lbh sulit’ sedikit, n jarang yang punya keinginan menjual satu tahap di atas hasil pertaniannya). Tapi gak semua juga sih.
Tinggal di Lampung, yang notabene propinsi dengan potensi agriculture yang sangat besar, jadi miris juga klo menyadari ini. Sbg contoh Lampung merupakan satu penghasil kakao yang besar dan berkualitas baik, selama ini selalu menjual buah kakao kering, yang sebagian besar untuk diekspor. Mengapa mereka tidak mencoba mengolahnya menjadi bahan setegah jadi misalnya atau diolah menjadi minyak kek, or apa kek, yang pasti bukan sbg buah kering tok! Jangankan untuk mengolahnya sampai setengah jadi, bahkan ketika diinformasikan kakao kualitas baik adalah kakao yang difermentasi sebelum dikeringkan, mereka juga tidak begitu tertarik karena tenaga dan waktu yang dibutuhkan tidak signifikan berpengaruh terhadap perbedaan harga jualnya. Sangat bisa dipahami. Aku juga pasti akan berfikir yang sama kalau ada di posisi mereka. Dan ironisnya, Disperindag juga tidak bisa menjawab ketika diminta utk memperjuangkan hal ini.

Ini baru satu petani kakao. Belum lagi jika tiba2 nanti harga kakao dunia turun drastis, seperti halnya cengkeh, kopi, dan vanilli yang mengalami nasib serupa sebelumnya. Jika itu terjadi maka petani akan mengganti jenis tanaman yang ada secara besar2an lagi. Pengen bgt bisa melihat petani2 itu bisa lebih berdaya suatu saat nanti. Tapi blm tahu mesti gmn. N kemarin sempat mengusahakan kulit buangannya yang selama ini gk terpakai dan pastinya jumlahnya besar bgt sbg sumber energi yang bisa mengurangi pemakaian bahan bakar minyak tanah (ssttt aku blm bisa sendiri, so kerjasama dg temen dari ITB yang punya workshop di Lembang), n berhasil sbnrnya (mksdnya ekonomis, bankable karena pihak bank juga ikut menganalisa). Tapiiii…gak tahu kenapa realisasinya blm2 juga. Smoga bisa scptnya deh, so bisa mengurangi biaya hidup utk pengeluaran mereka dan juga pengurangan konsumsi bahan bakar fosil.

N yang lain juga adalah petani tebu. aku juga barutahu kalau ternyata selama ini petani tebu dibayar tidak dengan harga tebu per kg, tetapi dari rendemennya, dan dibayarkan kepada petani dengan konversi gula yang dihasilkan plus molasesnya. Katanya sih ini untuk melindungi petani, tapi ternyata ada satu case dimana ‘harga’ yang dibayarkan kepada petani adalah tidak sesuai dengan ‘rendemen asli’, karena pernah satu kali diuji ulang ke Jepang n ternyata rendemennya jauh lebih besar dari rendemen yang dikatakan oleh pihak pabrik. Sedih yach…
Belum lagi petani yang dikasih molases juga gak tahu akan dipake untuk apa, so terpaksa dijual lagi ke pabrik dg harga yang murah bgt. Skrg aku n bbrp temen2 (tua2 euy he2..) juga sedang mengupayakan sesuatu untuk membantu beberapa org dari mereka yang semangat utk memanfaatkan apa yang belum termanfaatkan selama ini, dan yang pasti masuk dalam usaha pengurangan percepatan GLOBAL ‘WARNING’ WARMING he2..

Pengen juga kan liat petani2 kita lebih berdaya kedepannya? klo setuju, boleh bantu doa untuk kita eh maksudnya untuk petani Indonesia!

Leave a Reply