Burger

February 17th, 2008

No Gravatar

Pernah satu saat ketika perasaanku sedang sangat tidak ‘enak’, sekitar jam stgh 8 mlm aku tidak sengaja membeli Mc.Donald burger karena tidak tahan dengan baunya dan membuat lidahku tiba2 menginginkannya. Aku membeli 2 beef burger favoritku dan kuputuskan membawa pulang. Di sepanjang jembatan penyeberangan, agak sepi, dan aku berpapasan dengan 2 anak jalanan di situ. Tiba2 aku berfikir ‘apakah mereka sudah pernah makan burger yang kubawa saat itu?’, tanpa berfikir panjang aku bertanya apakah mereka mau burger, dengan bingung mereka menjawab ‘mau kak’, dan aku lgsg menyerahkan kpd mereka.
Bbrp saat sblmnya aku sangat menginginkan burger itu, tapi saat itu aku cm berfikir kalau lidahku sudah ‘pernah’ tahu dan bahkan sudah hafal rasanya, namun belum tentu lidah mereka sehafal lidahku akan rasa burger itu.

Bukan ucapan ‘terima kasih’ yang membuatku kembali merasakan sesuatu yang ‘enak’ dalam hati, tapi melihat senyuman bahagia tulus yang samar2 dapat kulihat di malam itu. Hanya dengan ‘burger sekecil itu’ dan di atas jembatan itu:)

Bosan ditanya about “BB”

February 17th, 2008

No Gravatar

Hari ini, seperti jg kmrn2, aku bosan ketika semua orang menanyakan kenapa sekarang aku kurus. Keluarga, sahabat, teman, rekan kerja semua bertanya. Coz aku emang gak tahu jawabannya. Beberapa waktu lalu berat badanku sampai 38kg, dimana sekitar 4-5th yang lalu berat badanku adalah 45-47 kg, dg tinggi badan 150cm so cukup ‘berisi’-lah ya…

Dan ketika sampai pada 38kg, aku langsung teringat salah satu sahabat Fanny di Sby yang juga punya berat badan berkisar itu pada waktu kuliah dulu, mungkin aku tampak sekurus itu. Dan semua orang bertanya (tidak tahukah mereka kalau aku adlh org pertama yg jg bertanya ‘ada apa dg tubuhku?’). Aku juga sudah konsultasi ke dokter, dan berbagai macam test dilakukan, dan hasilnya Alhamdulillah normal2 az. Walopun dokternya juga bingung coz sampe sekarang malah semakin menurun plus dg bbrp indikasi negatif, tp berhubung hasil testnya baik2 az ya go on az deh (but, dari hasil USG dokternya melihat ‘kalau aku agak sedikit capek’, n terpaksa diakui he2..tanpa bertanya lbh detail, n aku putuskan mgkn memang krn aku capek)

Anyway, coba percaya dengan yang ditulis dalam buku The Secret dan juga Quantum Ikhlas oleh Erbe sentanu, bahwa pikiran kita sebenarnya ‘bekerja’ dalam hidup kita melebihi apa yang kita ‘kerjakan secara fisik’. Pikiran bekerja melalui energi vibrasi dari quanta. Singkatnya gini: Benda padat merupakan kumpulan dari molekul, dan molekul itu terdiri dari atom dan partikelnya, dimana ketiganya ini yang bisa terlihat. Smentara partikel tersusun dari quanta yg tdpt dalam alam energi yaitu ‘vibrasi kuantum yang tak terlihat’(fisika bgt deh, tp masuk akal sih). So ketika kita berfikir tentang sesuatu, maka sebenarnya pikiran kita memancarkan energi untuk menarik energi2 sejenis untuk mewujudkan apa yang kita fikirkan…dan aku jadi langsung teringat pada ‘kebetulan2′ ajaib yang sering aku alami dalam hidup, n jadi berfikir mungkin juga itu bener.

N kembali ke kasusku, semakin aku berfikir & memusingkan mengapa aku kurus, maka aku akan semakin kurus karena pikiranku ‘bekerja’ utk itu. So skrg coba gak pikirin lagi deh. Tapiiiii kenapa semua orang (apalagi yg sudah lama tdk bertemu) selalu berekspresi terkaget2 dan sometimes tampak ‘kasian’ melihatku…so sad. Walo lebih dari itu semua, aku bersyukur bgt karena masih punya banyak orang yang care dg diriku:)

dear Fanny: miz u already:)

Mimpi Jd Petani

February 17th, 2008

No Gravatar

Kalau aku tanya cita2 kepada adik2 or ponakan or anaknya tetangga, pasti jawabannya klo gak dokter, polisi, guru,pengusaha or jawaban umum yg lain. Tapi ada satu sepupuku yang cukup kreatif menjawab ingin jadi reporter karena terinspirasi oleh Riyanni Djangkaru presenter Jejak Petualang di trans7, tujuannya satu biar bisa jalan2 keliling Indonesia n sometimes ke luar negri dengan GRATIS, idih ternyata kecil2 sudah bisa berfikir ‘duit’ juga dia.
Anyway, sebenarnya aku pengen sekali mendengar jawaban AKU PENGEN JADI PETANI! (Karena sebenarnya ini cita2ku yang belum kesampaian he2..). Trus kenapa hampir tidak ada anak2 skrg yang bercita2 jadi petani yach? Mungkin karena petani identik dengan miskin, kotor dan kerja keras. Padahal klo di Amerika, jadi petani juga bisa kaya raya, so yang salah pasti bukan pada ‘petani’-nya saja, tp lebih kepada sistem yang ada. Mulai dari sistem pendidikan yang membentuk petani (petani Indonesia cenderung sukanya dapet uang yang cepet, gak mau ‘lbh sulit’ sedikit, n jarang yang punya keinginan menjual satu tahap di atas hasil pertaniannya). Tapi gak semua juga sih.
Tinggal di Lampung, yang notabene propinsi dengan potensi agriculture yang sangat besar, jadi miris juga klo menyadari ini. Sbg contoh Lampung merupakan satu penghasil kakao yang besar dan berkualitas baik, selama ini selalu menjual buah kakao kering, yang sebagian besar untuk diekspor. Mengapa mereka tidak mencoba mengolahnya menjadi bahan setegah jadi misalnya atau diolah menjadi minyak kek, or apa kek, yang pasti bukan sbg buah kering tok! Jangankan untuk mengolahnya sampai setengah jadi, bahkan ketika diinformasikan kakao kualitas baik adalah kakao yang difermentasi sebelum dikeringkan, mereka juga tidak begitu tertarik karena tenaga dan waktu yang dibutuhkan tidak signifikan berpengaruh terhadap perbedaan harga jualnya. Sangat bisa dipahami. Aku juga pasti akan berfikir yang sama kalau ada di posisi mereka. Dan ironisnya, Disperindag juga tidak bisa menjawab ketika diminta utk memperjuangkan hal ini.

Ini baru satu petani kakao. Belum lagi jika tiba2 nanti harga kakao dunia turun drastis, seperti halnya cengkeh, kopi, dan vanilli yang mengalami nasib serupa sebelumnya. Jika itu terjadi maka petani akan mengganti jenis tanaman yang ada secara besar2an lagi. Pengen bgt bisa melihat petani2 itu bisa lebih berdaya suatu saat nanti. Tapi blm tahu mesti gmn. N kemarin sempat mengusahakan kulit buangannya yang selama ini gk terpakai dan pastinya jumlahnya besar bgt sbg sumber energi yang bisa mengurangi pemakaian bahan bakar minyak tanah (ssttt aku blm bisa sendiri, so kerjasama dg temen dari ITB yang punya workshop di Lembang), n berhasil sbnrnya (mksdnya ekonomis, bankable karena pihak bank juga ikut menganalisa). Tapiiii…gak tahu kenapa realisasinya blm2 juga. Smoga bisa scptnya deh, so bisa mengurangi biaya hidup utk pengeluaran mereka dan juga pengurangan konsumsi bahan bakar fosil.

N yang lain juga adalah petani tebu. aku juga barutahu kalau ternyata selama ini petani tebu dibayar tidak dengan harga tebu per kg, tetapi dari rendemennya, dan dibayarkan kepada petani dengan konversi gula yang dihasilkan plus molasesnya. Katanya sih ini untuk melindungi petani, tapi ternyata ada satu case dimana ‘harga’ yang dibayarkan kepada petani adalah tidak sesuai dengan ‘rendemen asli’, karena pernah satu kali diuji ulang ke Jepang n ternyata rendemennya jauh lebih besar dari rendemen yang dikatakan oleh pihak pabrik. Sedih yach…
Belum lagi petani yang dikasih molases juga gak tahu akan dipake untuk apa, so terpaksa dijual lagi ke pabrik dg harga yang murah bgt. Skrg aku n bbrp temen2 (tua2 euy he2..) juga sedang mengupayakan sesuatu untuk membantu beberapa org dari mereka yang semangat utk memanfaatkan apa yang belum termanfaatkan selama ini, dan yang pasti masuk dalam usaha pengurangan percepatan GLOBAL ‘WARNING’ WARMING he2..

Pengen juga kan liat petani2 kita lebih berdaya kedepannya? klo setuju, boleh bantu doa untuk kita eh maksudnya untuk petani Indonesia!

‘Solidaritas Kebersamaan’ Untuk Anak2 Indonesia

February 15th, 2008

No Gravatar

Di negara ini ada berbagai macam manusia: mereka yang hanya mampu mengumpat dan mengeluhkan berbagai masalah……atau mereka yang mengenakan gelang merah!

(sssttt…ini sih kata mas Yudhis dkk, dedengkotnya Yayasan Tunas Cendekia or Solidaritas Kebersamaan).
Yang pasti sih gak gitu juga (walaupun aku memilih untuk menggunakannya sejak beberapa tahun yang lalu, tapi bukan berarti karena aku tidak mau dibilang masuk ke golongan manusia pertama loh..he2), tapi maksudnya coba untuk semangat berusaha melakukan sesuatu (sekecil apapun) untuk dapat mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik. Nah, kebetulan teman2 yang mengenakan gelang merah ini sepakat memulainya dengan mengenakan gelang merah, sebagai tanda solidaritas, untuk menunjukkan kesatuan visi, khususnya bagi dunia pendidikan anak2 dari Sabang sampai Merauke di masa depan. Solidaritas bisa ditunjukkan dengan memakai gelang merah yang menunjukkan donasi -harga gelang 10 rb rupiah- yang dapat dilakukan kepada anak2 di seluruh Indonesia, melalui yayasan ini. Bentuk bantuannya pun sangat kreatif, tidak hanya memberikan buku2 pelajaran atau membangunkan sekolah atau memberikan komputer dll. Salah satu bantuan yang menurutku cukup bagus dan unik adalah mereka menyalurkan bantuan berupa sepeda kepada anak2 sekolah di lereng merapi, untuk membantu mereka mencapai sekolah yang biasanya ditempuh dengan berjalan kaki. Sepeda yang diperoleh juga tidak semua baru, namun banyak juga yang membantu memberikan sepeda2 bekasnya yang selama ini banyak nongkrong di gudang rumah.

So, kalau ada yang ingin tahu gelang apa sih yang dipakai oleh Dik Doank or Arie Dagink or yang lain, itu adalah gelang Solidaritas Kebersamaan. Bentuk kegiatan dan apa saja yang sudah dilakukan oleh teman2 di YTC ini dapat langsung dilihat di Yayasan Tunas Cendekia, n kalau tertarik lihat az di www.tunascendekia.org !

Semangat gak semangat nulis

February 15th, 2008

No Gravatar

Btw, jd malu klo inget waktu semangat daftar ke Mare untuk ikutan di web ini, n tnyt abis gitu gak pernah diisi:-)

Mo ikutan bungKoes juga ah…mo tulis2 ceritaku dari Lampung!

Hello world!

December 25th, 2007

No GravatarWelcome to K37! alumni teknik kimia ITS Surabaya. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!