Feb 19 2008

semangat memberi

Published by mare at 8:22 pm under Uncategorized

  •  Terkesan juga dengan tulisannya Arie yang merasakan bahagianya berbagi dengan orang lain. Terkadang saya juga ingin memberi orang lain lebih dari sekedar uang receh, tidak .. saya tidak senang memberi kepada orang yang tidak mau berusaha tetapi selalu meminta. Contoh nyata kalau anda lewat jalan Kutai di Surabaya kadang kala disana lewat seorang pemuda yang tinggi tegap, berbadan sehat tetapi dengan tanpa malu menadahkan tangan di setiap kaca mobil. Sementara kalau anda pernah lewat perempatan Ngesong ada seorang anak kecil dengan tubuh yang kurus meminta di terik matahari dan  ibunya mengawasi dari jauh.. sungguh membuat hati geram tapi tidak berdaya. 
  • Beberapa hari yang lalu, di sela deru bis yang baru datang di terminal bungurasih, saya yang sedang menunggu Anna di depan terminal, melihat suatu peristiwa yang mungkin jarang terlihat. Seorang pengemis tua yang tergolek lemah di trotoar mungkin adalah pemandangan yang terlalu biasa untuk mata kita. Keinginan untuk memberikan uang dengan sopan kadang-kadang dikalahkan dengan perasaan takut atau sungkan  sehingga saya seperti juga orang lain yang sering melewati trotoar itu hanya melemparkan uang ke mangkuk di depannya. ” Toh saya sudah memberi, dan mudah-mudahan pahala segera datang ” mungkin begitu pikiran mereka (  termasuk saya ).  
  •  Tetapi hari itu, di tengah hembusan angin bulan februari yang menusuk tulang, ketika semua orang berjalan dengan cepat dan hampir semua orang berlalu dengan cepat. Saya yang harus menunggu memilih berlindung di balik pohon sengon sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Seorang ibu dengan keranjang lusuh dan muka yang tertutup kain, pakaiannyapun  tidak lebih baik dari pengemis tua yang ada dihadapannya. Saya menduga ia seorang pemulung karena membawa keranjang dan besi panjang untuk mengais sampah, ia berjalan pelan dan berhenti di depan  pengemis itu. Ia berjongkok di depannya ,  mengeluarkan bungkusan berisi makanan dan memberikannya dengan hormat kepada pengemis itu. Ia tidak mengacungkan bungkusan tersebut, tetapi mendekapkan tangan pengemis itu ke bungkusan dengan keikhlasan. Tak sepatahpun kata yang terucap, yang terjadi hanya sebuah adegan bisu tentang penghormatan dan kerelaan. Sang ibu berdiri dan lalu berlalu dengan cepat, ia berjalan melewati saya dan dari matanya saya melihat kebahagiaan yang nyata.   
  • 3 Responses to “semangat memberi”

    1. macangadunganNo Gravataron 25 Feb 2008 at 2:02 pm

      wah…baik bgt orgnya. tapi bisa aja dia keluarga pengemis itu?
      eniwei…salam kenal. makasi udah mampir

    2. ArieNo Gravataron 11 Mar 2008 at 5:46 pm

      Beruntung kamu dapet potret kayak gitu Re, ada pelajaran ketulusan & keikhlasan dsana, n smoga bisa mengingatkan kita semua. coz Tuhan juga bilang kalo seharusnyalah kita utk saling memberi, bukannya meminta.

    3. FitraNo Gravataron 08 Apr 2008 at 10:33 am

      Harga dari pemberian itu adalah ketulusan. Dan ketulusan itu barang langka…..saking langka nya, mereka justru hadir di dalam diri orang-orang kecil….iri ya melihat mereka yang menjadi sahabat ketulusan…..karena mereka adalah kaya raya di hari nanti….sedang kita? *tertawa miris*

      Salam kenal :-)

    Trackback URI | Comments RSS

    Leave a Reply

    mi blogs is using WP-Gravatar