Apr 05 2008
customer service
Waktu itu adalah musim liburan juni-juli ( sudah terlalu lama banget ), aku dan dua orang sahabat sedang berada di pulau lombok untuk menghabiskan liburan. Lombok pada waktu itu mengalami setback karena mismanagement dalam pariwisatanya. Pantai-pantai yang indah tetapi tidak didukung sarana wisata membuat hanya wisatawan dengan rasa petualangan tinggi yang datang. Kami bukanlah backpakers yang nekat ( mengapa ya dulu waktu muda aku tidak lebih berani bertualang ), hanya ada undangan dari keluarga teman di pulau ini yang membuat kami mau datang.
Walaupun terombang-ambing di selat lombok selama empat jam bukanlah pengalaman yang mengesankan, tetapi melihat lumba-lumba berlompatan di sisi kapal adalah priceless moments.
Anyway, liburan kami diisi dengan banyak berenang dan berenang. Di Taman Narmada berenang, di pantai senggigi berenang , lalu di kolam air dingin ( lupa nama tempatnya ) berenang lagi. Kolam renangnya bersih dan sangat murah ( waktu itu ) jadi uang yang terbatas hampir tidak terasa
Suatu hari di akhir liburan aku dan seorang teman memutuskan untuk berenang lagi, Setelah berapa lama kebetulan aku melihat ada seorang anak yang menjajakan buah nangka, memakan buah segar di hari yang panas mungkin sebuah kenikmatan. Jadi kami memanggil anak itu, dan ternyata bukan hanya tiket kolam renang yang murah. Temanku berkata agar kami membeli agak banyak untuk dibawa pulang dan ia mengeluarkan uang sepuluh ribuan dan menanyakan pada anak itu berapa banyak yang bisa kami dapat dengan uang segitu. Anak itu terlihat gelisah bercampur senang dan berkata ia akan mengambil nangka tambahan karena yang ia bawa tidak cukup. Karena hari masih pagi kamipun setuju dan melanjutkan acara renang.Setelah beberapa jam berenang, dan menunggu nangka yang tidak kunjung datang. Akhirnya kami memutuskan pulang walau dengan hati sedikit dongkol karena merasa ditipu.
“oleh anak kecil lagi ” kataku menambahkan
Setelah berganti pakaian kami pun pulang. Tetapi sebelum sampai di gerbang Taman ada suara yang memanggil-manggil kami, ternyata sang anak penjual nangka tadi tergopoh-gopoh sambil menjinjing
keranjang berisi nangka.Wajahnya yang terlihat cemas berganti ceria melihat kami dan setelah berulang kali meminta maaf ia menjelaskan kalau ia harus mencari dan memanjat pohon nangka untuk mendapatkan nangka yang paling baik.
” Mengapa kamu tidak berikan kami saja nangka yang sudah dipetik dan sudah dibungkus” tanya temanku
Dan ia berkata dengan jumlah uang yang kami berikan ia merasa harus memberikan nangka yang terbaik.
Oh betapa salahnya kami yang telah berprasangka dan seorang anak kecil mengajari kami tentang pelayanan.
DI perjalanan pulang aku melihat air mata bergulir di pipi Retno temanku.

Good Layout and design. I like your blog. I just added your RSS feed to my Google News Reader. .
Jason Rakowski
surprised..kirain foto Putu ama Ana eh malah ada foto Mbak Retno
So surprised…kangen ama mbak Retno…dah lama bgt ga ketemu mbak Retno
he..he…salam deh ya ama mbak Retno kalau ketemu lagi
dan salam buat istri ya…
cerita yg sangat menyentuh..keep writing ya
hai ris sy aja ngga pernah ketemu , katanya dia di jkarta tapi sdh lost contact lama