Apr 13 2008
dinner etiquette
“monggo mas ”
begitu setiap orang yang mau menyantap hidangan di sebuah warung menyapa orang yang disebelahnya
bila yang disapa belum atau tidak makan. Ini adalah kesopanan minimal yang harus dijalani bila makan di warung
cak marno sebelah perempatan kontrakanku.
Di Surabaya ini kayaknya semakin padat dan ruwet, walau seorang teman dari jakarta
protes ” kamu itu tahu apa tentang ruwet dan macet ! ” ya.. yah yah mungkin disana lebih macet. Tetapi yang setiap hari tak rasakan semakin banyak orang yang senang melanggar lalu lintas. Menunggu lampu merah di depan garis putih lah lalu pindah jalur “ora ngreken” orang dibelakangnya. Batas-batas norma dan kesopanan jalan raya ( memangnya ada yah ? ) sudah ngga dipedulikan pokoknya cepat sampai, ngebut lalu nyerempet orang kemudian dilanjutkan dengan misuh-misuh ..wow kok uripe enak tenan yo. Yah begitulah, tapi ora sah mikir orang kaya gitu lah bikin mumet lan ruwet binti puyeng.
Dan di sore hari setelah maghrib biasanya warung cak marno sudah diisi dengan para pelanggan ( termasuk aku tentunya ). Cak marno walau masih muda tetapi selalu berbicara halus pada semua orang ( kecuali keluarga tentunya ). ” ora ilok ” katanya kalau ditanya kok ngga ngomong suroboyoan aja. Nasi bungkus cak Marno terkenal lembut dan kualitasnya benar-benar dijaga sehingga kalau lewat jam 8 sudah ludes. Hari ini aku hanya minum teh hangat ditemani gorengan waktu ada pemuda gondrong duduk disebelahku, aku tahu dia preman di terminal bratang soalnya setiap hari tak lihat nongkrong disana. Dia mengambil bungkusan nasi dan mengelap sendok dengan serbet lalu dengan tak diduga ia tersenyum ke arahku dan berkata
” monggo mas !”
tergagap aku pun membalas “Nggih, monggo, monggo ”
ah….norma kesopanan itu ternyata masih ada
sometimes a smile from a stranger can brighten up your day. Aneh ya…
lupa mo ikutan senyum juga buat situ =)
^_^
Hai,terimakasih atas senyum nya:-)