“Kok kamu ngga beli kamera digital atau hape berkamera aja , khan hobi motret juga tuh lumayan bisa dikembangin ” kata seorang teman.
Sebenarnya mau juga sih membeli itu cuma ya itu, kok rasanya “eman ” uangnya kalo dibeliin sesuatu yang saya tahu akan cepat ketinggalan jamannya. Kata- kata kayak ” hari gini belum punya ….blalblabalbla ” rasanya ngga terlalu efektif untuk saya malah mungkin jadi backfired karena saya merasa bisa bertahan melawan arus modernisasi ( imagine that ! ) .
Tetapi memang pengin banget bisa fotografi, kok orang lain bisa mengambil gambar yang bagus banget. Kemudian ada teman saya yang dulu waktu sma dulu sering diketawain gara-gara bawa kamera kemana-mana sekarang sudah jadi fotografer top di jakarta.
” Tetapi kok ya aneh sudah jadi sarjana teknik kimia dari perguruan tinggi ternama di jawa timur ( halah ) kok maunya jadi fotografer ? tanya saya pada diri sendiri
Tetapi teman saya itu malah lulusan dari UI ( nah hayooo…. )ssssighhh (T_T)
Tetapi kemarin waktu pulang ke Bali saya niatin bawa kamera, tetapi bukan yang digital. Dulu beli pas obral karena ngga laku-laku ( memang siapa yang mau beli kamera film jaman gini kecuali saya .. ). Tapi filmnya memang mahal dan mencetaknya juga ngga ekonomis, tapi sudahlah namanya sudah niat diturutin aja toh juga saya jarang-jarang berniat seperti itu.
Di Bali setelah jeprat-jepret sana sini ( keuntungan dari kamera analog, menjepretnya sangat cepat dibandingkan dengan yang digital pokoknya jepret dulu hasil belakangan ). Kembali ke surabaya saya pun minta dicetakkan di toko dekat rumah.
Sorenya dengan harap-harap cemas saya pun kesana untuk melihat hasilnya,tetapi mas penjaganya setelah kembali dengan hasilnya memperlihatkan wajah yang prihatin
“Mas negatifnya banyak yang terbakar, mungkin kameranya sudah ngga fokus atau gimana saya kurang tahu , cuma ini yang selamat”Hmm kayaknya jalan menuju sukses ( halah2x ) ….memang penuh kerikil tajam.
Ini hasil beberapa foto yang selamat